Selasa, 03 Mei 2011

Ibda' binafsika

Mulailah dari dirimu sendiri, begitulah terjemahan dari judul di atas. Kenapa diri kita? kenapa tidak orang lain?

Biasanya seseorang akan menunjuk orang untuk melakukan sesuatu hal. Beda kalo menerima sesuatu, maka seseorang akan selalu mengacungkan jari untuk yang pertama kali. Lumrah demikian orang jawa menyebutnya. Bahasa kerennya adalah manusiawi.

Dunia adalah kumpulan dari benua dan negara yang terbagi atas beberapa distrik, propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan hingga dusun, RW, RT dan KK serta diri kita masing-masing sebagai anggota keluarga.

Nah, berangkat dari hal itulah, maka ketentraman, ketenangan, ketertiban, keadilan, kenyamanan dan seabrek atribut yang baik-baik dapat kita pasangkan apabila pribadi-pribadi yang menjadi root dari dunia menjadi pribadi yang baik, unggul, soleh.

Sudahkah kita semua memahami hal tersebut? Jika belum, maka tidak ada kata terlambat... Ayo segera kita lakukan... ibda' binafsika

Kemudian lanjutkan dengan keluarga kita, tetangga kita kita dan seterusnya ke semua warga dunia yang ada... Qu anfusakum wa ahlikum naro....

Qum fa Andzir

Rutinitas telah menidurkan kita senyenyak-nyenyaknya. Inovasi atau improvisasi menjadi sangat-sangat terbatas. Apa jadinya masa depan kehidupan ini?

Memang menjalani hal yang rutin adalah eunak sekali. Tidak perlu banyak energi untuk berpikir dan menciptakan kreasi baru. Just DO IT. seperti biasanya pasti beres. Hal-hal yang bersifat kecelakaan atau kendala biasanya hanya sesekali saja terjadi. So... rutinitas akan menjadi irama kehidupan yang begitu nyaman.

Siapapun, dimanapun, kapanpun.... Itulah kenyataan kehidupan yang harus kita terima.

Kadang kita tersadar. Tetapi hanya sekejap, karena lingkungan, sistem dan hal-hal yang menunjang proses rutinitas tidak mendukung, maka ketersadaran itu hanya akan berumur sekejap. Ikut arus dan jangan coba-coba menentangnya. Resiko tenggelam atau bahkan menjadi hancur mumur karena kalah kuat dengan aliran arus masal bisa menjadi konsekuensi bagi kita yang tersadar dan kemudian mencoba untuk merubah arah arus yang salah menurut hukumNYA.

Tetapi.... haruskah kita menyerah... jangan... sekali kita sadar... maka kita harus bertahan dan mempertahankan kesadaran tersebut. Lebih jauh sadarkan juga saudara, kawan dan tetangga yang masih tertidur agar segera bangun.

Qum fa andzir "Bangun dan berilah peringatan"

Up and Down

Why I took the headline "Up and Down"?

Semua itu tak lepas dari berbagai peristiwa yang senantiasa kita lalu detik demi detik hingga tak terasa sudah sekian tahun kita menjalani ritual kehidupan ini. Rutinitas selalu menjebak kita. Bangun kemudian tdur lagi. Duduk kemudian berdiri. Diam lalu bergerak. Kerja ato istirahat. 2 hal yang berkebalikan tetapi harus kita jalani sepanjang waktu. Kadang terasa begitu membosankan. Tetapi harus bagaimana lagi. Kita berada pada situasi yang demikian itu semenjak lahir dan mungkin nanti hingga ajal datang menjemput kita.

Interupt itu hanya terjadi sesekali saja. Jadi boleh digeneralisir semua adalah hal kontinyu yang selalu rutin terjadi dalam keseharian kehidupan kita. bukankah demikian?

Manusia dengan seabrek bekal yang diberikan oleh sang pencipta memang bisa membuat suatu inovasi dalam kehidupan ini. Tetapi tetap saja itu tidak bisa dilepaskan dari proses perulangan.

Namun begitu, suatu hal yang berkebalikan bukan berarti yang satu baik dan yang lain jelek. Bisa jadi keduanya baik atau bahkan sebaliknya keduanya jelek.

Itulah gunakan seabrek bekal tersebut diberikan olehNYA agar kita dapat menyaring dan memilahnya sehingga seharusnya semua traksaksi kehidupan kita menjadi berkah dan membawa rahmat karena berada pada pilihan yang tepat dan benar sesuai koridor hukumNYA.

Ya muqollibal qulub tsabit qulubana 'alad diniika " Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini pada jalan kebenaranMU"