Ketika kita tinggal di suatu tempat, maka mau tidak mau kita harus menjadi bagian dari lingkungan di mana kita berada. Lingkungan paling kecil adalah keluarga kita, kemudian tetangga kita atau saudara kita dan kemudian membesar-membesar sesuai ukuran persahabatan atau pergaulan kita.
Dulu ketika masih kecil, aku tinggal di suatu kampung yang relatif jauh dari kota. Istilah Kampung sering dipersepsikan sebagai kelompok masyarakat yang kaya dengan kegiatan tradisional, budaya dan adat istiadat. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh lingkungan di mana aku tinggal adalah kegiatan ronda atau jaga malam.
Mengingat jumlah hari dalam seminggu ada 7 hari (senin s/d minggu), maka untuk keadilan dan kebersamaan diaturlah agar satu kelompok ronda terdiri dari sejumlah kepala keluarga (KK) yang dihitung dengan formula matematika "Jumlah KK dibagi 7". Sebagai warga yang baik, ayahku yang seorang guru juga mendapatkan tugas jaga. Namun agar tugas jaga tersebut tidak mengganggu aktifitas Beliau di esok hari, maka Beliau diberi waktu ronda malam minggu.
Kegiatan ronda dimulai dengan berkumpulnya para anggota ronda sesuai jadual yang telah ditetapkan dengan mengambil tempat secara bergilir di rumah para anggota kelompok. Waktu kumpul dimulai jam 10 malam s/d jam 2 atau 3 pagi. Bahkan kadang mendekati waktu subuh. Yang menarik nih, pada setiap ronda selalu ada hidangan kue dan minuman. Dan untuk membuang waktu menunggu saat keliling biasanya ada permainan seperti catur, remi, gaple dan lain-lain.
Sehubungan dengan kondisi ayah yang kadang-kadang capek, maka aku yang waktu itu masih sekolah di SMP jadi sering menggantikan ayahku ketika jadual waktu ronda tiba. Bahkan tidak hanya pada malam minggu saja aku mengikuti ronda malam. Beberapa malam sering aku lewati ikut ronda pada kelompok lain selain hari minggu. Hanya sekedar ikut menambah pengalaman bermain remi atau gaple.
Dari kegiatan ronda malam itulah ketrampilanku bermain gaple menjadi berkembang pesat. Dan itu teruji waktu kampungku mengadakan lomba gaple dalam rangka peringatan HUT KEMRI. Aku dan pasanganku berhasil merebut juara pertama.
Kisah ini memberikan inspirasi bahwa sebenarnya setiap diri itu diberi bekal dan intuisi untuk setiap hal. Namun berkembang tidaknya bekal tersebut tergantung dari diri manusia itu sendiri. Bila seorang manusia berkeinginan kuat dan kemudian berupaya untuk belajar dengan sepenuh hati dan kemudian menerapkannya maka insya Allah bekal itu akan menjadi kekuatan yang menghasilkan.
Mari kita mengasah bekal-bekal yang ada pada diri kita. Pengorbanan waktu, tenaga atau biaya dalah sesuatu hal yang biasa. Kita harus tanamkan bahwa itu adalah bagian dari investasi kita.
Media bagi semua manusia yang mengharapkan pencerahan, kemajuan dan jalan sukses di masa depan. Penuh kisah yang syarat hikmah untuk menjadi tauladan. Komprehensif dengan referensi akurat dan bertanggung jawab.
Tampilkan postingan dengan label Experience Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experience Learning. Tampilkan semua postingan
Senin, 26 April 2010
Selasa, 13 April 2010
Berpikir Positif
Bukankah sudah jelas kalimat dari samawi “fa’asaa an takrahuu syaian wa yaj’alallahu fiihi khairan katsiiran” – Apabila kamu tidak menyukai sesuatu (ketahuilah) bahwa mungkin Allah akan menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
Dalam wacana kehidupan kita senantiasa dihadapkan pada 2 hal yang berlawanan yang berujung pada kutup negatip dan positip, seperti ‘langit dengan bumi’, baik dengan buruk’, ‘jujur dengan dusta’, ‘iman dengan ingkar’, dllnya.
Kadang pikiran kita bertanya, kenapa sesuatu yang berkorelasi dengan ‘negatip’ harus ada atau diadakan? Bahkan kecenderungan menunjukkan yang ‘negatip’ itu cenderung lebih mudah untuk muncul dan menyeruak dalam kehidupan kita. Seperti inikah dunia yang harus kita jalani…? Pikiran atau statemen ‘negatip’ tersebut muncul sebagai akibat dari diagnosa atas berbagai tanda dan gejala yang ada.
Namun perlu disadari bahwa sesuai referensi tertinggi dari sang penguasa alam semesta sebagaimana telah didokumentasikan dalam literatur technology samawi, statetemen ‘negatip’ diatas tidaklah benar adanya. Bahkan cenderung bertentangan dengan kaidah prinsip yang ada sebagaimana tersurat pada Bab 3 ayat 191 (Ali Imron 191) dan Bab 49 ayat 12 (Al Hujurat 49) :
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dalam wacana kehidupan kita senantiasa dihadapkan pada 2 hal yang berlawanan yang berujung pada kutup negatip dan positip, seperti ‘langit dengan bumi’, baik dengan buruk’, ‘jujur dengan dusta’, ‘iman dengan ingkar’, dllnya.
Kadang pikiran kita bertanya, kenapa sesuatu yang berkorelasi dengan ‘negatip’ harus ada atau diadakan? Bahkan kecenderungan menunjukkan yang ‘negatip’ itu cenderung lebih mudah untuk muncul dan menyeruak dalam kehidupan kita. Seperti inikah dunia yang harus kita jalani…? Pikiran atau statemen ‘negatip’ tersebut muncul sebagai akibat dari diagnosa atas berbagai tanda dan gejala yang ada.
Namun perlu disadari bahwa sesuai referensi tertinggi dari sang penguasa alam semesta sebagaimana telah didokumentasikan dalam literatur technology samawi, statetemen ‘negatip’ diatas tidaklah benar adanya. Bahkan cenderung bertentangan dengan kaidah prinsip yang ada sebagaimana tersurat pada Bab 3 ayat 191 (Ali Imron 191) dan Bab 49 ayat 12 (Al Hujurat 49) :
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Mengelola Waktu
Ingat peribahasa "Time is money" - waktu adalah uang yang maknanya apabila kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik untuk keperluan usaha secara tepat maka insya Allah kita akan mendapatkan tambahan uang. Peribahasa lain mengatakan "Alwaqtu kasy-syoif" - waktu itu seperti pedang yang bermaksa apabila kita dapat mengelola waktu secara komprehensif maka kita akan memperoleh manfaat yang banyak, tetapi sebaliknya jika kita terlena maka kita akan menjadi orang yang merugi.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS : 103 - 1 s/d 3).
Detik berganti menit hingga akhirnya jarum jam pun berpindah tempat. Hari ini telah mengubah masa lalu dan tahun depan-pun sudah menunggu. Waktu terus berlalu meninggalkan yang tertinggal dengan tanpa kasihan.
Oleh karena itu manajemen waktu merupakan hal utama yang harus diperhatikan agar seseorang bisa terselamatkan dari ketertinggalan. Pembelajaran tentang manajemen waktu sebenarnya sudah banyak disampaikan oleh Sang Pemberi Petunjuk. Pergerakan matahari dan bulan begitu jelas terlihat mata. Dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah juga diajarkan dan diterapkan tentang bagaimana mengelola waktu. Jadual pelajaran di sekolah. Jadual ronda di kampung. Jadual pekerjaan di rumah tangga. Semua itu adalah contoh contoh pembelajaran dan penerapan tentang manajemen waktu.
24 jam sehari semalam bisa dirasa cepat dan bisa juga terasa lama. Apabila diasumsikan dalam kurun waktu sehari semalam seseorang mengerjakan aktifitas utama (sekolah/ bekerja) selama 10 jam kemudian ditambah masa tidur sekitar 8 jam, maka orang tersebut masih memiliki sisa waktu selama 6 jam. Waktu yang cukup banyak untuk keperluan pembelajaran dan peningkatan kualitas diri maupun untuk kegiatan amaliah di lingkungan sekitar.
Bagi orang yang tidak memperhatikan soal waktu, maka boleh jadi 6 jam tersebut akan hilang tiada bekas. Aktifitas 'mubazir' seperti bermain-main, ngobrol sana sini, dan lain-lain seringkali dilakukan oleh kebanyakan orang untuk mengisi sisa waktu tersebut. Bahkan tidak jarang ada orang yang harus mengorbankan waktu utama (10 jam) atau waktu istirahat (8 jam) sehingga berimpact pada penurunan kualitas sekolah, kerja atau phisik/ keseharan seseorang
Jadi, mari kita kelola waktu dengan sebaik-baiknya agar kita bisa sukses dunia akhirat.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS : 103 - 1 s/d 3).
Detik berganti menit hingga akhirnya jarum jam pun berpindah tempat. Hari ini telah mengubah masa lalu dan tahun depan-pun sudah menunggu. Waktu terus berlalu meninggalkan yang tertinggal dengan tanpa kasihan.
Oleh karena itu manajemen waktu merupakan hal utama yang harus diperhatikan agar seseorang bisa terselamatkan dari ketertinggalan. Pembelajaran tentang manajemen waktu sebenarnya sudah banyak disampaikan oleh Sang Pemberi Petunjuk. Pergerakan matahari dan bulan begitu jelas terlihat mata. Dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah juga diajarkan dan diterapkan tentang bagaimana mengelola waktu. Jadual pelajaran di sekolah. Jadual ronda di kampung. Jadual pekerjaan di rumah tangga. Semua itu adalah contoh contoh pembelajaran dan penerapan tentang manajemen waktu.
24 jam sehari semalam bisa dirasa cepat dan bisa juga terasa lama. Apabila diasumsikan dalam kurun waktu sehari semalam seseorang mengerjakan aktifitas utama (sekolah/ bekerja) selama 10 jam kemudian ditambah masa tidur sekitar 8 jam, maka orang tersebut masih memiliki sisa waktu selama 6 jam. Waktu yang cukup banyak untuk keperluan pembelajaran dan peningkatan kualitas diri maupun untuk kegiatan amaliah di lingkungan sekitar.
Bagi orang yang tidak memperhatikan soal waktu, maka boleh jadi 6 jam tersebut akan hilang tiada bekas. Aktifitas 'mubazir' seperti bermain-main, ngobrol sana sini, dan lain-lain seringkali dilakukan oleh kebanyakan orang untuk mengisi sisa waktu tersebut. Bahkan tidak jarang ada orang yang harus mengorbankan waktu utama (10 jam) atau waktu istirahat (8 jam) sehingga berimpact pada penurunan kualitas sekolah, kerja atau phisik/ keseharan seseorang
Jadi, mari kita kelola waktu dengan sebaik-baiknya agar kita bisa sukses dunia akhirat.
Senin, 12 April 2010
Les, Privat atau Belajar Mandiri
Bagi anak sekolah belajar adalah merupakan makanan utama yang harus selalu dipenuhi secara rutin setiap hari. Belajar bagi anak sekolah bisa dalam bentuk dan forum formal seperti di kelas sekolahan dan belajar non formal yang dapat ditempuh melalui belajar mandiri di rumah atau bersama guru les privat atau melalui lembaga les pendidikan.
Belajar secara formal di sekolahan sangat diperlukan agar si anak memperoleh sertifikat kelulusan yang memang masih menjadi isu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Adapun belajar secara non formal ditujukan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan diri agar mampu meraih prestasi yang lebih baik di tingkat pendidikan formal maupun untuk implementasi ke depan.
Dalam proses pembelajaran, maka 'key' suksesnya adalah kesiapan seorang pembelajar, content, timing, media dan juga nara sumber (mentor).
Belajar melalui lembaga 'les' pendidikan memang lebih tersetruktur. Tapi perlu cost extra dan alokasi waktu yang tetap. Untuk belajar melalui les privaf, waktu lebih bisa diatur, tapi cost biasanya venderung lebih mahal karena nara sumber (mentor) harus mendatangi lokasi/ rumah si pembelajar. Yang paling flexibel dan murah adalah belajar mandiri.
Dalam proses belajar mandiri, maka siswa/ pelajar dituntut untuk mendisiplinkan diri dan konsisten serta selalu berusaha semaksimal mungkin menerapkan 3 pilar belajar sebagaimana pernah saya sampaikan pada uraian yang berjudul "Semua pelajaran adalah mudah".
Untuk mencapai hasil yang optimal, maka orang tua perlu menerapkan 'cek and recek' baik kepada si anak ataupun kepada nara sumber (mentor) tentang perkembangan penguasaan si anak akan konten yang dipelajari. Kenapa? Karena pada setiap metode pendidikan non formal tersebut seorang anak kadang mengambil kesempatan untuk melarikan diri atau bersembunyi dari tugas utamanya. Ketika mereka menempuh les melalui lembaga pendidikan, mereka hanya sekedar untuk bermain dengan teman-teman atau untuk hal lainnya. Ketika si anak belajar melalui mentor privat, si anak merasa terkekang dengan pola si mentor atau si anak menjadi kurang 'lawan'. Atau ketika si pembelajar belajar mandiri, maka itu semua hanya sekedar membuka agar terlihat ada aktifitas belajar.
Dengan demikian keberhasilan dalam belajar sangat ditentukan oleh beberapa faktor :
1. "anak yang senang", tidak merasa terkekang/ terbebani yang diserta pendisiplinan (keteraturan) diri dan semangat maju/ ingin tahu/ ingin paham
2. "pengawasan orang tua" melalui aktivitas cek and rechek di semua titik kritis khususnya tentang pemahaman/ penguasaan content
3. "kualitas mentor" pada pembelajaran melalui les, khususnya tentang metode belajar mengajar yang diterapkan yang menyenangkan dan memudahkan bagi si anak untuk dipahami
4. "kualitas content" sangat diperlukan agar penalaran/ penguasaan si anak menjadi semakin komprehensif
5. pemilihan "Waktu" yang tepat agar si anak merasa santai tapi tetap serius
Aku sendiri selama ini belajar melalui model mandiri karena bisa hemat biaya dan waktu yang flexibel. Apalagi sekarang pustaka ada di mana-mana. Soft copy informasi tersebar luas di dunia maya. buku asli dan copy-an begitu mudah didapatkan di toko buku, pasar buku maupun kawan-kawan.
Selamat memilih metode pembelajaran yang tepat bagi anda dan keluarga. Semoga sukses
Belajar secara formal di sekolahan sangat diperlukan agar si anak memperoleh sertifikat kelulusan yang memang masih menjadi isu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Adapun belajar secara non formal ditujukan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan diri agar mampu meraih prestasi yang lebih baik di tingkat pendidikan formal maupun untuk implementasi ke depan.
Dalam proses pembelajaran, maka 'key' suksesnya adalah kesiapan seorang pembelajar, content, timing, media dan juga nara sumber (mentor).
Belajar melalui lembaga 'les' pendidikan memang lebih tersetruktur. Tapi perlu cost extra dan alokasi waktu yang tetap. Untuk belajar melalui les privaf, waktu lebih bisa diatur, tapi cost biasanya venderung lebih mahal karena nara sumber (mentor) harus mendatangi lokasi/ rumah si pembelajar. Yang paling flexibel dan murah adalah belajar mandiri.
Dalam proses belajar mandiri, maka siswa/ pelajar dituntut untuk mendisiplinkan diri dan konsisten serta selalu berusaha semaksimal mungkin menerapkan 3 pilar belajar sebagaimana pernah saya sampaikan pada uraian yang berjudul "Semua pelajaran adalah mudah".
Untuk mencapai hasil yang optimal, maka orang tua perlu menerapkan 'cek and recek' baik kepada si anak ataupun kepada nara sumber (mentor) tentang perkembangan penguasaan si anak akan konten yang dipelajari. Kenapa? Karena pada setiap metode pendidikan non formal tersebut seorang anak kadang mengambil kesempatan untuk melarikan diri atau bersembunyi dari tugas utamanya. Ketika mereka menempuh les melalui lembaga pendidikan, mereka hanya sekedar untuk bermain dengan teman-teman atau untuk hal lainnya. Ketika si anak belajar melalui mentor privat, si anak merasa terkekang dengan pola si mentor atau si anak menjadi kurang 'lawan'. Atau ketika si pembelajar belajar mandiri, maka itu semua hanya sekedar membuka agar terlihat ada aktifitas belajar.
Dengan demikian keberhasilan dalam belajar sangat ditentukan oleh beberapa faktor :
1. "anak yang senang", tidak merasa terkekang/ terbebani yang diserta pendisiplinan (keteraturan) diri dan semangat maju/ ingin tahu/ ingin paham
2. "pengawasan orang tua" melalui aktivitas cek and rechek di semua titik kritis khususnya tentang pemahaman/ penguasaan content
3. "kualitas mentor" pada pembelajaran melalui les, khususnya tentang metode belajar mengajar yang diterapkan yang menyenangkan dan memudahkan bagi si anak untuk dipahami
4. "kualitas content" sangat diperlukan agar penalaran/ penguasaan si anak menjadi semakin komprehensif
5. pemilihan "Waktu" yang tepat agar si anak merasa santai tapi tetap serius
Aku sendiri selama ini belajar melalui model mandiri karena bisa hemat biaya dan waktu yang flexibel. Apalagi sekarang pustaka ada di mana-mana. Soft copy informasi tersebar luas di dunia maya. buku asli dan copy-an begitu mudah didapatkan di toko buku, pasar buku maupun kawan-kawan.
Selamat memilih metode pembelajaran yang tepat bagi anda dan keluarga. Semoga sukses
Pilar sukses belajar
Sering kita dengar dari anak-anak sekolah, pelajar, mahasiswa dan bahkan juga para orang tua bahwa pelajaran ini mudah tapi pelajaran yang itu sulit. Benarkah demikian? Ataukah itu semua karena persepsi salah yang kita tanamkan sendiri dalam alam kesadaran kita sehingga akhirnya kita sendiri jadi kesulitan?
Seorang ahli manajemen 'covey' mengatakan bahwa kita harus berpikir dari akhir "Start from the end". Artinya kita harus menetapkan tujuan yang jelas, terukur sebelum kita mulai melangkahkan kaki pada suatu aktivitas kegiatan/ project yang akan dijalankan.
Sebuah riwayat mengatakan "Sang kuasa beserta sangkaan hambanya". Artinya kalau kita meyakini bahwa sesuatu itu akan berhasil, maka insya Allah, Sang Kuasa akan mengabulkan dan menetapkannya.
Kedua cuplikan di atas tentunya tidak berhenti pada step tersebut. Harus diikuti dengan langkah nyata, usaha yang terus menerus dan terakhir kita harus 'tawakkal' (berserah diri, pasrah sepenuh hati) kepada Sang Kuasa dengan diikuti 'do'a' dan permohonan secara mendalam.
Berkaitan dengan pelajaran sekolah, saya teringat bagaimana teman-teman mengatakan bahwa sebagian besar ilmu eksaksa (seperti matematika, kimia) merupakan ilmu yang sulit. Mereka biasanya kalo ulangan atau ujian tengah semester atau ujian akhir akan merasakan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para penguji. Akhirnya nilai merekapun 'jeblok' sehingga tidak sedikit yang harus mengulang, ikut her dan bahkan ada yang akhirnya tidak lulus.
Sebenarnya masing-masing di antara kita sudah dibekali oleh Sang Khaliq dengan processor terhebat dan memory yang besar. Bahkan kemampuan mengelola, mendaur ulang atau mengcreate suatu hal barupun dilimpahkan kepada kita. Beda dengan komputer - walaupun pintar, tapi tidak akan ada artinya kalo tidak kita jalankan.
The key dari case ini adalah "kontinyuitas diri dalam melakukan pilar mengulang, melatih dan menerapkan". Pilar mengulang dapat kita lakukan dalam bentuk membaca literatur/ referensi/ teory dan selanjutnya mamahaminya. Tahapan melatih merupakan bentuk 'trial' atau pilot project implementasi teory yang sudah kita pelajari dan pahami. Di sini kita harus sering mengasah otak dengan berbagai bentuk latihan soal sehingga akan tercipta logika dan siklus proses eksekusi (program) yang siap digunakan apabila pada saatnya nanti diperlukan. Pilar terakhir adalah menerapkan yang artinya mencoba menggunakan teori yang ada untuk penyelesaian kasus dalam ragam kehidupan yang terjadi di sekitar kita.
Apabila ketiga pilar tersebut dijalankan, maka sebenarnya ilmu-ilmu eksakta yang dianggap sulit itu akan menjadi sirna dan semua terasa mudah.
Seorang ahli manajemen 'covey' mengatakan bahwa kita harus berpikir dari akhir "Start from the end". Artinya kita harus menetapkan tujuan yang jelas, terukur sebelum kita mulai melangkahkan kaki pada suatu aktivitas kegiatan/ project yang akan dijalankan.
Sebuah riwayat mengatakan "Sang kuasa beserta sangkaan hambanya". Artinya kalau kita meyakini bahwa sesuatu itu akan berhasil, maka insya Allah, Sang Kuasa akan mengabulkan dan menetapkannya.
Kedua cuplikan di atas tentunya tidak berhenti pada step tersebut. Harus diikuti dengan langkah nyata, usaha yang terus menerus dan terakhir kita harus 'tawakkal' (berserah diri, pasrah sepenuh hati) kepada Sang Kuasa dengan diikuti 'do'a' dan permohonan secara mendalam.
Berkaitan dengan pelajaran sekolah, saya teringat bagaimana teman-teman mengatakan bahwa sebagian besar ilmu eksaksa (seperti matematika, kimia) merupakan ilmu yang sulit. Mereka biasanya kalo ulangan atau ujian tengah semester atau ujian akhir akan merasakan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para penguji. Akhirnya nilai merekapun 'jeblok' sehingga tidak sedikit yang harus mengulang, ikut her dan bahkan ada yang akhirnya tidak lulus.
Sebenarnya masing-masing di antara kita sudah dibekali oleh Sang Khaliq dengan processor terhebat dan memory yang besar. Bahkan kemampuan mengelola, mendaur ulang atau mengcreate suatu hal barupun dilimpahkan kepada kita. Beda dengan komputer - walaupun pintar, tapi tidak akan ada artinya kalo tidak kita jalankan.
The key dari case ini adalah "kontinyuitas diri dalam melakukan pilar mengulang, melatih dan menerapkan". Pilar mengulang dapat kita lakukan dalam bentuk membaca literatur/ referensi/ teory dan selanjutnya mamahaminya. Tahapan melatih merupakan bentuk 'trial' atau pilot project implementasi teory yang sudah kita pelajari dan pahami. Di sini kita harus sering mengasah otak dengan berbagai bentuk latihan soal sehingga akan tercipta logika dan siklus proses eksekusi (program) yang siap digunakan apabila pada saatnya nanti diperlukan. Pilar terakhir adalah menerapkan yang artinya mencoba menggunakan teori yang ada untuk penyelesaian kasus dalam ragam kehidupan yang terjadi di sekitar kita.
Apabila ketiga pilar tersebut dijalankan, maka sebenarnya ilmu-ilmu eksakta yang dianggap sulit itu akan menjadi sirna dan semua terasa mudah.
Menempa prestasi di sekolah
Sekolah selain sebagai media pendidikan formal juga dapat menjadi media untuk mendulang prestasi. Berbagai perlombaan sering diadakan di sekolah-sekolah baik itu khusus untuk internal siswa sekolah terkait maupun antar sekolah. Keuntungan ganda bisa diperoleh melalui proses perlombaan para siswa. Pertama adalah pengembangan keahlian siswa itu sendiri, kedua adalah peningkatan 'pamor' dan nilai jual sekolah dan ketiga dapat menjadi nilai jual bagi sang guru.
Waktu aku sekolah di SD aku pernah mengikuti perlombaan bidang olahraga badminton dan lomba pidato antar sekolah tingkat kecamatan Srandakan. Sistem yang ditempuh utk pertandingan Badminton adalah sistem gugur. Jadi siapa yang menang akan terus melaju dan siapa yang kalah harus rela untuk menjadi penonton seterusnya. Untuk lomba badminton, saya mencapai posisi pada perdelapan final, sedangkan untuk lomba pidati aku berhasil meraih juara ketiga. Asyik juga deh.
Hal yang menjadi kunci utama dari pelajaran ini adalah : 1) bagaimana seorang siswa punya keberanian untuk maju dan bertempur melawan siswa dari sekolah lain; 2) agaimana seorang siswa dapat menekan dan menghilangkan sifat takut, grogi ketika harus menunjukkan kebolehannya di muka umum.
Keberanian merupakan sifat utama yang diajarkan oleh Sang Kuasa yang harus dimiliki dan digenggam oleh seorang muslim agar mampu menghadapi para musuh dengan semangat penyucian dan kebenaran.
Dengan demikian sudah sepantasnya apabila para orang tua selalu meluangkan waktu untuk melatih anak-anak agar tumbuh dan berkembang sebagai anak yang berani tampil di berbagai event yang diselenggaran di kampung, sekolahan dan lain-lainnya. Mendidik anak agar berani tampil tidak cukup hanya dengan memerintah. Namun kita perlu memberi contoh, mengarahkan, mengevaluasi dan kegiatan-kegiatan terkait lainnya.
Waktu aku sekolah di SD aku pernah mengikuti perlombaan bidang olahraga badminton dan lomba pidato antar sekolah tingkat kecamatan Srandakan. Sistem yang ditempuh utk pertandingan Badminton adalah sistem gugur. Jadi siapa yang menang akan terus melaju dan siapa yang kalah harus rela untuk menjadi penonton seterusnya. Untuk lomba badminton, saya mencapai posisi pada perdelapan final, sedangkan untuk lomba pidati aku berhasil meraih juara ketiga. Asyik juga deh.
Hal yang menjadi kunci utama dari pelajaran ini adalah : 1) bagaimana seorang siswa punya keberanian untuk maju dan bertempur melawan siswa dari sekolah lain; 2) agaimana seorang siswa dapat menekan dan menghilangkan sifat takut, grogi ketika harus menunjukkan kebolehannya di muka umum.
Keberanian merupakan sifat utama yang diajarkan oleh Sang Kuasa yang harus dimiliki dan digenggam oleh seorang muslim agar mampu menghadapi para musuh dengan semangat penyucian dan kebenaran.
Dengan demikian sudah sepantasnya apabila para orang tua selalu meluangkan waktu untuk melatih anak-anak agar tumbuh dan berkembang sebagai anak yang berani tampil di berbagai event yang diselenggaran di kampung, sekolahan dan lain-lainnya. Mendidik anak agar berani tampil tidak cukup hanya dengan memerintah. Namun kita perlu memberi contoh, mengarahkan, mengevaluasi dan kegiatan-kegiatan terkait lainnya.
Minggu, 11 April 2010
Mengisi waktu liburan
Masa sekolah memang merupakan masa yang paling enak. Apalagi ketika masih SD. Dulu ketika aku sekolah di SD Negeri tak jauh dari rumahku di kampung yang bernama Srandakan, aku masuk kelas pada jam 7 dan pulang pada jam 11 (ketika kelas 1) atau jam 12 (ketika kelas 2) dan jam 13 (ketika kelas 3 ke atas).
Banyak waktu luang yang dapat kumanfaatkan untuk bermain dan bergaul dengan teman-teman tetangga rumah. Apalagi ketika liburan tiba. Wow, aku bisa tidak masuk sekolah untuk waktu yang panjang. Dulu waktu aku sekolah masa setahun pelajaran dibagi dalam 3 periode yang dikenal dengan nama Catur Wulanan atau 4 bulanan. Jadi setiap 4 bulan sekali aku akan menikmati masa liburan sekolah yang lamanya bisa 1 sampai 2 minggu. Bahkan untuk liburan kenaikan kelas bisa nyampe 1 bulan. Asyik sekali deh.
Nah yang menjadi "key" liburan adalah bagaimana mengisi waktu kosong selama liburan tersebut dengan berbagai kegiatan positip yang berkorelasi ke peningkatan pengetahuan, skill ataupun mentalitas para anak sekolah.
SD tempat aku sekolah dulu, masih jauh lebih sederhana dibanding SD jaman sekarang. Liburan di kala itu benar-benar asyik. Tiada tugas belajar atau pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan selama liburan. Jadinya selama liburan aku bisa bermain sepuasnya atau jalan-jalan ke tempat wisata bersama orang tua. Makhlumlah ayah dan ibuku juga seorang guru. Jadi kami bisa libur sama-sama. Beberapa obyek wisata di propinsi DIY dan Jateng sering menjadi tujuan kami. Beberapa pantai yang dulu pernah kami kunjungi antara lain adalah Parangtritis, Samas, Karangbolong, Trisik dan lain-lain. Kami juga menengok candi Prambanan, Borobudur. Obyek wisata gua atau gunung juga menjadi tujuan kami. Pusat hiburan seperti mall, kolam renang, dll belum begitu banyak.
Bagi anak-anak, wisata alam merupakan hal yang paling baik untuk mengenalkan keagungan Sang Khaliq karena disitulah berbagai keindahan alam semesta dinampakkan. Selain itu dengan wisata alam, anak juga dapat belajar ilmu bumi, geografi, texture bumi, dll. Jadi kegiatan wisata alam juga merupakan wahana untuk belajar pengetahuan sekaligus meningkatkan keimanan akan kebesaran dan keagungan Sang Khaliq.
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS:3-137)
Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". (QS:6-11; QS:16-36)
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS:29-20)
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. (QS:34-18)
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS:67-15)
Banyak waktu luang yang dapat kumanfaatkan untuk bermain dan bergaul dengan teman-teman tetangga rumah. Apalagi ketika liburan tiba. Wow, aku bisa tidak masuk sekolah untuk waktu yang panjang. Dulu waktu aku sekolah masa setahun pelajaran dibagi dalam 3 periode yang dikenal dengan nama Catur Wulanan atau 4 bulanan. Jadi setiap 4 bulan sekali aku akan menikmati masa liburan sekolah yang lamanya bisa 1 sampai 2 minggu. Bahkan untuk liburan kenaikan kelas bisa nyampe 1 bulan. Asyik sekali deh.
Nah yang menjadi "key" liburan adalah bagaimana mengisi waktu kosong selama liburan tersebut dengan berbagai kegiatan positip yang berkorelasi ke peningkatan pengetahuan, skill ataupun mentalitas para anak sekolah.
SD tempat aku sekolah dulu, masih jauh lebih sederhana dibanding SD jaman sekarang. Liburan di kala itu benar-benar asyik. Tiada tugas belajar atau pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan selama liburan. Jadinya selama liburan aku bisa bermain sepuasnya atau jalan-jalan ke tempat wisata bersama orang tua. Makhlumlah ayah dan ibuku juga seorang guru. Jadi kami bisa libur sama-sama. Beberapa obyek wisata di propinsi DIY dan Jateng sering menjadi tujuan kami. Beberapa pantai yang dulu pernah kami kunjungi antara lain adalah Parangtritis, Samas, Karangbolong, Trisik dan lain-lain. Kami juga menengok candi Prambanan, Borobudur. Obyek wisata gua atau gunung juga menjadi tujuan kami. Pusat hiburan seperti mall, kolam renang, dll belum begitu banyak.
Bagi anak-anak, wisata alam merupakan hal yang paling baik untuk mengenalkan keagungan Sang Khaliq karena disitulah berbagai keindahan alam semesta dinampakkan. Selain itu dengan wisata alam, anak juga dapat belajar ilmu bumi, geografi, texture bumi, dll. Jadi kegiatan wisata alam juga merupakan wahana untuk belajar pengetahuan sekaligus meningkatkan keimanan akan kebesaran dan keagungan Sang Khaliq.
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS:3-137)
Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". (QS:6-11; QS:16-36)
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS:29-20)
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. (QS:34-18)
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS:67-15)
Sabtu, 10 April 2010
Menghilangkan rasa takut kanak-kanak
Aku muai menempuh pendidikan dasar pada tahun 1982. Ketika itu tahun ajaran baru masih dimulai bulan Januari. Jadi kalau dihitung usiaku sekitar 6 tahun kurang 2 bulan.
Tempat aku sekolah berada di Kampung Srandakan yang berjarak kurang lebih 1 KM dari rumah orangtua-ku. Walau ibuku seorang pengajar di SD tersebut, namun saya selalu berangkat sekolah sendiri atau kadang bersama kawan-kawan. Ketika masih duduk di 1 s/d 3 aku menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah kelas 4 barulah orangtua-ku mengijinkanku untuk berangkat ke sekolah dengan naik sepeda.
Waktu itu program-program pemerintah sudah mulai disinergikan antar kementrian ataupun departemen. Salah satunya adalah program kementrian/ departemen kesehatan yang disinergikan dengan kementrian/ departemen pendidikan.
Salah satu program sinergi yang kuingat adalah kegiatan vaksinasi di sekolah dasar. Kejadian itu terjadi ketika aku masih duduk di kelas 1. Hal yang paling kuingat adalah rasa takut ketika akan disuntik. Wajarlah seorang bocah takut. Yang menjadi 'key success' adalah 'bagaimana seorang guru bisa mengendalikan sejumlah anak agar para bocah tersebut dapat terkurangi rasa takutnya ketika akan disuntik'.
Pagi hari itu, ketika program vaksinasinasi akan mulai dilakukan untuk para anak kelas 1 dan 2, sebagian besar dari anak-anak - karena begitu takutnya kena suntik pak 'mantri kesehatan' mulai menangis, sembunyi dan bahkan ada yang mencoba melarikan diri.
Aku yang ketika itu memilih opsi mencoba melarikan diri akhirnya dapat ditangkap oleh pak guru dan kemudian dibawa ke ruangan untuk kemudian disuntik dengan serum oleh pak mantri kesehatan. Akhirnya aku menangis juga.
Menghilangkan rasa takut adalah suatu proses yang harus dilatih secara dini agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang pemberani. Mengenalkan karakter pemberani kepada anak-anak dapat ditempuh dengan berbagai upaya. Mengajak dan menemani seorang anak untuk berjalan-jalan di daerah yang gelap atau cenderung dianggap menakutkan; tidak menakut-nakuti seorang anak dengan tokoh-tokoh yang cenderung dipersepsi menakutkan seperti hantu, setan dan lain-lain; mengenalkan seorang anak dengan tokoh pemberani dan pejuang pembela kebenaran; dan lain-lain.
Ayo kita jadikan anak-anak kita menjadi anak yang hebat dan pemberani.
Tempat aku sekolah berada di Kampung Srandakan yang berjarak kurang lebih 1 KM dari rumah orangtua-ku. Walau ibuku seorang pengajar di SD tersebut, namun saya selalu berangkat sekolah sendiri atau kadang bersama kawan-kawan. Ketika masih duduk di 1 s/d 3 aku menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah kelas 4 barulah orangtua-ku mengijinkanku untuk berangkat ke sekolah dengan naik sepeda.
Waktu itu program-program pemerintah sudah mulai disinergikan antar kementrian ataupun departemen. Salah satunya adalah program kementrian/ departemen kesehatan yang disinergikan dengan kementrian/ departemen pendidikan.
Salah satu program sinergi yang kuingat adalah kegiatan vaksinasi di sekolah dasar. Kejadian itu terjadi ketika aku masih duduk di kelas 1. Hal yang paling kuingat adalah rasa takut ketika akan disuntik. Wajarlah seorang bocah takut. Yang menjadi 'key success' adalah 'bagaimana seorang guru bisa mengendalikan sejumlah anak agar para bocah tersebut dapat terkurangi rasa takutnya ketika akan disuntik'.
Pagi hari itu, ketika program vaksinasinasi akan mulai dilakukan untuk para anak kelas 1 dan 2, sebagian besar dari anak-anak - karena begitu takutnya kena suntik pak 'mantri kesehatan' mulai menangis, sembunyi dan bahkan ada yang mencoba melarikan diri.
Aku yang ketika itu memilih opsi mencoba melarikan diri akhirnya dapat ditangkap oleh pak guru dan kemudian dibawa ke ruangan untuk kemudian disuntik dengan serum oleh pak mantri kesehatan. Akhirnya aku menangis juga.
Menghilangkan rasa takut adalah suatu proses yang harus dilatih secara dini agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang pemberani. Mengenalkan karakter pemberani kepada anak-anak dapat ditempuh dengan berbagai upaya. Mengajak dan menemani seorang anak untuk berjalan-jalan di daerah yang gelap atau cenderung dianggap menakutkan; tidak menakut-nakuti seorang anak dengan tokoh-tokoh yang cenderung dipersepsi menakutkan seperti hantu, setan dan lain-lain; mengenalkan seorang anak dengan tokoh pemberani dan pejuang pembela kebenaran; dan lain-lain.
Ayo kita jadikan anak-anak kita menjadi anak yang hebat dan pemberani.
Jumat, 09 April 2010
Pengendalian diri - Perang melawan Nafsu
Saat aku duduk di bangku SMP, ada suatu perubahan yg mulai terjadi pada diriku. Perasaan tertarik ke lawan jenis mulai terasa. Upaya memilih sudut pandang yang tepat untuk melihat atau memperhatikan seseorang merupakan bentuk implementasi ketertarikan pada lawan jenis.
Aku teringat kejadian saat aku kelas 2 SMP. Aku mulai punya keberanian untuk mencari wajah-wajah yang terlihat 'menarik' pada sekelompok adik kelas. Saat itu aku menemukan 2 orang yang berwajah cukup 'lumayan'. Yang satu hitam manis - anak kelas 1C dan satunya laki kuning langsat agak bongsor kelas 1 B.
Sebagai bentuk ketertarikanku saat itu, akupun membuat suatu puisi yang kutujukan pada mereka berdua. Kutulis pada selembar kertas dan kutempelkan pada daun pintu masuk kelas masing-masing. Tentunya aku tidak menyebutkan namaku pada akhir puisi itu.
Perubahan perilaku seperti itu memang biasa terjadi pada anak-anak yang sudah mulai menginjak dewasa. Yang perlu mendapatkan perhatian dari para orang tua adalah bagaimana perilaku tersebut tidak menjadi terlalu cepat dan bahkan menyimpang dari rel 'tata kerama' dan peradaban umat manusia. Sikap menjaga diri dan tidak mengikuti hawa nafsu adalah kunci segalanya.
Sudah sepantasnya bagi para orang tua untuk selalu memberikan bekal norma dan akhlak yang baik bagi si anak agar kelak nanti si anak tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang berbudi pekerti mulia.
Mengalahkan hawa nafsu adalah perjuangan hebat dan jauh lebih berat dari perang melawan musuh. Makanya Rasulullah mengatakan perang yang paling besar adalah perang melawn hawa nafsu.
Aku teringat kejadian saat aku kelas 2 SMP. Aku mulai punya keberanian untuk mencari wajah-wajah yang terlihat 'menarik' pada sekelompok adik kelas. Saat itu aku menemukan 2 orang yang berwajah cukup 'lumayan'. Yang satu hitam manis - anak kelas 1C dan satunya laki kuning langsat agak bongsor kelas 1 B.
Sebagai bentuk ketertarikanku saat itu, akupun membuat suatu puisi yang kutujukan pada mereka berdua. Kutulis pada selembar kertas dan kutempelkan pada daun pintu masuk kelas masing-masing. Tentunya aku tidak menyebutkan namaku pada akhir puisi itu.
Perubahan perilaku seperti itu memang biasa terjadi pada anak-anak yang sudah mulai menginjak dewasa. Yang perlu mendapatkan perhatian dari para orang tua adalah bagaimana perilaku tersebut tidak menjadi terlalu cepat dan bahkan menyimpang dari rel 'tata kerama' dan peradaban umat manusia. Sikap menjaga diri dan tidak mengikuti hawa nafsu adalah kunci segalanya.
Sudah sepantasnya bagi para orang tua untuk selalu memberikan bekal norma dan akhlak yang baik bagi si anak agar kelak nanti si anak tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang berbudi pekerti mulia.
Mengalahkan hawa nafsu adalah perjuangan hebat dan jauh lebih berat dari perang melawan musuh. Makanya Rasulullah mengatakan perang yang paling besar adalah perang melawn hawa nafsu.
Kamis, 08 April 2010
Bergaul dengan kawan-kawan
Masa kanak-kanak adalah masa yang benar-benar indah. Penuh permainan, canda dan gelak tawa. Aktivitas coba-mencoba, berpetualang, mencari kawan pergaulan dan seabrek hal yang menarik untuk dikenang.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa lingkungan pergaulan seorang anak manusia selalu berkembang dari waktu ke waktu. Lingkungan terkecil adalah bersama keluarga dengan orang tua dan saudara/ kawan serumah. Selanjutnya lingkungan akan meluas ke saudara, tetangga sekitar, kemudian ke teman sekolah.
Inilah implementasi konsep "mutualisme simbiosme" dalam kehidupan atau teori "manusia sebagai makhluk sosial". Manusia tidak bisa hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Mereka saling membutuhkan, saling mendukung/ mengisi.
Dalam pergaulan kadang terjadi friksi dan pertentangan. Ada yang hany terbatas pada bentuk argumentasi saja. Namun tidak sedikit pula yang harus terlibat pada aktivitas "ngenengake" atau bahkan sampai sikap extrem perkelahian phisik.
Dahulu kala ketika aku masih sekolah di SD, aku pernah mengalami pertengkaran dengan teman sekolah. Bahkan kami sempat sedikit adu phisik. Syukur itu bisa kita selesaikan dengan baik kembali.
Kejadian serupa juga sempat kualami ketika aku sekolah di SMP. AKu sempat adu mulut dengan pelajar dari SMP tetangga. Hampir saja aku dikeroyok oleh kelompok dia. Alhamdulillah ada teman di SMP tersebut yang membantuku dengan memberitahu para calon pengeroyok tersebut bahwa aku adalah temannya dan mengatakan "Jangan ganggu dia ya, ntar kalian harus menghadapi aku".
Begitulah dalam pergaulan ada juga susah senangnya. Ada yang bisa berubah jadi lawan, ada pula yang tetap menjadi sahabat setia.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa lingkungan pergaulan seorang anak manusia selalu berkembang dari waktu ke waktu. Lingkungan terkecil adalah bersama keluarga dengan orang tua dan saudara/ kawan serumah. Selanjutnya lingkungan akan meluas ke saudara, tetangga sekitar, kemudian ke teman sekolah.
Inilah implementasi konsep "mutualisme simbiosme" dalam kehidupan atau teori "manusia sebagai makhluk sosial". Manusia tidak bisa hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Mereka saling membutuhkan, saling mendukung/ mengisi.
Dalam pergaulan kadang terjadi friksi dan pertentangan. Ada yang hany terbatas pada bentuk argumentasi saja. Namun tidak sedikit pula yang harus terlibat pada aktivitas "ngenengake" atau bahkan sampai sikap extrem perkelahian phisik.
Dahulu kala ketika aku masih sekolah di SD, aku pernah mengalami pertengkaran dengan teman sekolah. Bahkan kami sempat sedikit adu phisik. Syukur itu bisa kita selesaikan dengan baik kembali.
Kejadian serupa juga sempat kualami ketika aku sekolah di SMP. AKu sempat adu mulut dengan pelajar dari SMP tetangga. Hampir saja aku dikeroyok oleh kelompok dia. Alhamdulillah ada teman di SMP tersebut yang membantuku dengan memberitahu para calon pengeroyok tersebut bahwa aku adalah temannya dan mengatakan "Jangan ganggu dia ya, ntar kalian harus menghadapi aku".
Begitulah dalam pergaulan ada juga susah senangnya. Ada yang bisa berubah jadi lawan, ada pula yang tetap menjadi sahabat setia.
Belajar melalui "Dolanan"
Masa kanak-kanak adalah masa penuh vitalitas. Semua serba menyenangkan. Tidak ada rasa lapar ataupun capek dan lelah. Kegembiraan dan keasyikan bermain sendiri ataupun bersama teman-teman menjadikan waktu begitu cepat berlalu, sehingga seorang anak kadang lupa kapan harus makan, kapan harus istirahat dan kapan pula saatnya untuk mandi dan beribadah...
Untuk itulah kewajiban para orang tua agar selalu memonitor dan mengawasi para 'bocah' agar tetap berada dalam koridor keteraturan yang mendidik - tidak memaksa namun juga tidak membiarkan.
Dulu ketika masih kecil, aku pernah bermain menuju pantai dengan berjalan kaki bersama kawan-kawan sekampung. Tidak banyak sih, hanya sekitar 5 orang. Jarak tempuh sekitar 20KM bolak-balik. Tiada rasa lelah, walau kami telah berjalan cukup jauh, namun di pantai kami masih bermain pasir dan berlatih renang.
Kehati-hatian seorang bocah memang masih sangat kurang. Begitu juga aku waktu itu. Dengan beraninya aku masuk ke deburan ombak yang memecah pantai dengan tidak berpikir sama sekali tentang resiko terseret ombak ke tengah laut. Syukur alhamdulillah waktu itu walaupun aku sempat terseret ombak, namun hanya kaus baju yang terbawa ke laut.
Pengalaman lain terjadi saat aku bermain renang dengan kawan-kawan di area pertemuan arus air sungai di kawasan 'gejlik pitu'. Hampir saja aku terseret arus air yang berpusar di tengah-tengah sungai menuju ke bawah 'gejlik'.Syukur alhamdulillah aku masih diselamatkan oleh Sang Penjaga.
Hal yang sama terjadi ketika aku memanjat pohon kelapa yang berketinggian sekitar 12M. Aku kala itu bahkan berani menaiki pelepah daun kelapa dan menuju ke puncak kelapa. Atau ketika aku memanjat pohon melinjo setinggi pohon kelapa. Apa yang terjadi waktu itu? Ketika aku menginjak pelepah kelapa yang sudah kering - patahlah pelepah tersebut. Ketika aku memanjatkan kaki ke ranting melinjo - patahlah ranting tersebut. Syukur alhamdulillah aku masih diselamatkan dari kemungkinan kecelakan-kecelakaan tersebut.
Semangat ingin tahu, ingin mencoba bagi seorang anak adalah awal dari segalanya. Karena itu bagi para tetua, apabila melihat anaknya yang bersemangat untuk mencoba seseuatu hal, ada baiknya untuk tidak dilarang, namun juga tidak sepenuhnya dibiarkan. Harus tetap diawasi agar resiko-resiko yang mungkin timbul bisa diminimize dan bahkan bisa diantisipasi. Kalaupun tidak tindakan reflek dan sikap cekatan dapat segera diambil untuk penanganan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya." (QS: 12-12)
Untuk itulah kewajiban para orang tua agar selalu memonitor dan mengawasi para 'bocah' agar tetap berada dalam koridor keteraturan yang mendidik - tidak memaksa namun juga tidak membiarkan.
Dulu ketika masih kecil, aku pernah bermain menuju pantai dengan berjalan kaki bersama kawan-kawan sekampung. Tidak banyak sih, hanya sekitar 5 orang. Jarak tempuh sekitar 20KM bolak-balik. Tiada rasa lelah, walau kami telah berjalan cukup jauh, namun di pantai kami masih bermain pasir dan berlatih renang.
Kehati-hatian seorang bocah memang masih sangat kurang. Begitu juga aku waktu itu. Dengan beraninya aku masuk ke deburan ombak yang memecah pantai dengan tidak berpikir sama sekali tentang resiko terseret ombak ke tengah laut. Syukur alhamdulillah waktu itu walaupun aku sempat terseret ombak, namun hanya kaus baju yang terbawa ke laut.
Pengalaman lain terjadi saat aku bermain renang dengan kawan-kawan di area pertemuan arus air sungai di kawasan 'gejlik pitu'. Hampir saja aku terseret arus air yang berpusar di tengah-tengah sungai menuju ke bawah 'gejlik'.Syukur alhamdulillah aku masih diselamatkan oleh Sang Penjaga.
Hal yang sama terjadi ketika aku memanjat pohon kelapa yang berketinggian sekitar 12M. Aku kala itu bahkan berani menaiki pelepah daun kelapa dan menuju ke puncak kelapa. Atau ketika aku memanjat pohon melinjo setinggi pohon kelapa. Apa yang terjadi waktu itu? Ketika aku menginjak pelepah kelapa yang sudah kering - patahlah pelepah tersebut. Ketika aku memanjatkan kaki ke ranting melinjo - patahlah ranting tersebut. Syukur alhamdulillah aku masih diselamatkan dari kemungkinan kecelakan-kecelakaan tersebut.
Semangat ingin tahu, ingin mencoba bagi seorang anak adalah awal dari segalanya. Karena itu bagi para tetua, apabila melihat anaknya yang bersemangat untuk mencoba seseuatu hal, ada baiknya untuk tidak dilarang, namun juga tidak sepenuhnya dibiarkan. Harus tetap diawasi agar resiko-resiko yang mungkin timbul bisa diminimize dan bahkan bisa diantisipasi. Kalaupun tidak tindakan reflek dan sikap cekatan dapat segera diambil untuk penanganan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya." (QS: 12-12)
Rabu, 07 April 2010
Bagaimana menyikapi kanak-kanak
Konon, menurut para tetua : di kala aku masih kecil - mungkin belum genap usia 5 tahun, aku sangat bandel dan nakal. Sering ngegangguin orang-orang. Aku sendiri sudah lupa akan peristiwa-peristiwa itu.
Katanya aku pernah nendang orang hamil. Katanya pula aku suka merokok 'tembakau lintingan'. Yang remang-remang kuingat adalah kenakalanku saat naruh plastik berisi air diranting pohon yang menjulur ke jalan sehingga bisa kutumpahin ke pengguna jalan.
Menurut pengetahuan, pada dasarnya kenakalan atau keisengan seseorang (khususnya yang masih anak-anak) adalah merupaka perwujudan dari rasa keingintahuan atau bentuk 'trial' atas sesuatu yang baru dilihatnya untuk meyakinkan hal tersebut dalam pemikirannya.
Dengan demikian sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti apabila suatu saat kelak kita harus menemui perilaku anak yang relatif aneh atau tidak wajar menurut persepsi kita. Tentu saja sepanjang perilaku tersebut masih dalam koridor yang bisa ditolerir (tidak menimbulkan resiko besar dan atau membahayakan).
Apakah anda pernah membaca kisah Musa. Dimana Musa yang kala itu masih bayi begitu menyulitkan Fir'aun sebagai Bapak angkatnya (tidak mau disusui) dan Musa ketika kanak-kanak memilih untuk memakan bara api sehingga menyebabkan lidahnya terluka sehingga sedikit mengganggu tugasnya dalam berdakwah.
dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?". (QS:28-12)
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. (QS:26-12-13)
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). (QS:25-35)
Anak-anak adalah anugerah Sang Maha Kuasa kepada para orang tua. Namun anak-anak juga menjadi batu ujian, cobaan dan bahkan bisa menjadi lawan.
Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, (QS:26-113)
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia (QS: 18-46)
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS:8-28)
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS:9-55, 85)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS: 63-9)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS:64-14)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS:64-15)
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, (QS: 26-88)
Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari adzab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS: 58-17)
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS:60-3)
Katanya aku pernah nendang orang hamil. Katanya pula aku suka merokok 'tembakau lintingan'. Yang remang-remang kuingat adalah kenakalanku saat naruh plastik berisi air diranting pohon yang menjulur ke jalan sehingga bisa kutumpahin ke pengguna jalan.
Menurut pengetahuan, pada dasarnya kenakalan atau keisengan seseorang (khususnya yang masih anak-anak) adalah merupaka perwujudan dari rasa keingintahuan atau bentuk 'trial' atas sesuatu yang baru dilihatnya untuk meyakinkan hal tersebut dalam pemikirannya.
Dengan demikian sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti apabila suatu saat kelak kita harus menemui perilaku anak yang relatif aneh atau tidak wajar menurut persepsi kita. Tentu saja sepanjang perilaku tersebut masih dalam koridor yang bisa ditolerir (tidak menimbulkan resiko besar dan atau membahayakan).
Apakah anda pernah membaca kisah Musa. Dimana Musa yang kala itu masih bayi begitu menyulitkan Fir'aun sebagai Bapak angkatnya (tidak mau disusui) dan Musa ketika kanak-kanak memilih untuk memakan bara api sehingga menyebabkan lidahnya terluka sehingga sedikit mengganggu tugasnya dalam berdakwah.
dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?". (QS:28-12)
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. (QS:26-12-13)
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). (QS:25-35)
Anak-anak adalah anugerah Sang Maha Kuasa kepada para orang tua. Namun anak-anak juga menjadi batu ujian, cobaan dan bahkan bisa menjadi lawan.
Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, (QS:26-113)
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia (QS: 18-46)
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS:8-28)
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS:9-55, 85)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS: 63-9)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS:64-14)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS:64-15)
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, (QS: 26-88)
Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari adzab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS: 58-17)
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS:60-3)
Langganan:
Postingan (Atom)